Welcome!

Selamat Datang! Mari Berbagi dan Berdiskusi Bersama

Kamis, 02 Agustus 2018

Virtual Challenge; Teropong Budaya Jombang

Assalamu'alaikum Wr. Wb. 

"Yo Opo Kabare DULURR??!!!"
#KitaIndonesia #KitaBerbudaya

Setiap daerah di Jawa Timur mempunyai bentuk kesenian daerah yang dapat menjadi ciri khas suatu daerah. Demikian halnya dengan Kabupaten Jombang, di mana para pemerhati maupun pelaku seni sangat mengenal Jombang dengan kesenian ludruknya. Bahkan bagi masyarakat Jombang juga mafhum kalau cikal-bakal besutan berasal dari Jombang. Hanya saja dibutuhkan sebuah upaya pembuktian secara tertulis bahwa ludruk berawal dari Kota Santri ini. Kenapa hal tersebut harus ditelusuri? Jangan sampai apa yang telah kita miliki diambil oleh orang lain, karena sudah sejak dahulu sampai sekarang para pemain ludruk telah malang melintang menembus batas sebagai seniman tobong atau ludruk gedhong dan menyebar di berbagai wilayah di Jawa Timur.

Lek nyang nJombang kampunge Sengon
Lemah geneng akeh wedine
Najan gak sambang  kirimo ingon
Lek gak seneng opo mestine

Empat baris parikan di atas adalah puisi Jombangan yang seluruh pelaku ludruk Jawa Timuran pasti mengenal. Banyak sekali potensi kebudayaan Kabupaten Jombang Yang dapat digali lebih dalam lagi. Salah satunya Parikan Jombangan di atas. Namun Pada Artikel kali ini, dalam edisi Teropong Budaya Jombang kita bukan membahas mengenai parikan, melainkan kita akan membahas  mengenai tarian asli Jombang yakni "Tari Remo Boletan".

Sebelum membahas mengenai Tari Remo Boletan lebih dalam, kira-kira kalian tahu nggak sih apa arti tari yang sebenarnya?

Tari adalah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud, dan pikiran. Bunyi-bunyian yang disebut musik pengiring tari mengatur gerakan penari dan memperkuat maksud yang ingin disampaikan. Gerakan tari berbeda dari gerakan sehari-hari seperti berlari, berjalan, atau bersenam. Menurut jenisnya, tari digolongkan menjadi tari rakyat, tari klasik, dan tari kreasi baru.


*Dokumentasi siswi SMA Negeri 2 Jombang dalam kegiatan "Deutsh Parade 2017" bersama guru pembimbing mempersembahkan tari Remo Boletan asli Jombang.


Tari Remo berasal dari Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tarian ini berasal dari kecamatan Diwek Di desa Ceweng, tarian ini diciptakan oleh orang yang berprofesi sebagai penari jalanan di kala itu, memang banyak profesi tersebut di Jombang, kini Tarian ini pada akhirnya merupakan tarian yang digunakan sebagai pengantar tarian ludruk. Namun, pada awal pertengahanya tarian ini sering ditarikan secara terpisah sebagai sambutan kepulangan atas tamu kedaerahan, ditarikan dalam upacara-upacara kenegaraan, maupun dalam festival kesenian daerah.
Tarian ini sebenarnya menceritakan tentang perjuangan seorang pangeran dalam medan laga. Akan tetapi dalam perkembangannya tarian ini menjadi lebih garang ditarikan oleh perempuan, sehingga memunculkan gaya tarian yang lain: Remo Putri atau Tari Remo gaya perempuan dan banci
Menurut sejarahnya, tari remo merupakan tari yang khusus dibawakan oleh penari laki – laki. Ini berkaitan dengan lakon yang dibawakan dalam tarian ini. Pertunjukan tari remo umumnya menampilkan kisah pangeran yang berjuang dalam sebuah medan pertempuran. Sehingga sisi kemaskulinan penari sangat dibutuhkan dalam menampilkan tarian ini.
Berdasarkan perkembangan sejarah tari remo, dulunya tari remo merupakan seni tari yang digunakan sebagai pembuka dalam pertunjukan ludruk. Namun seiring berjalannya waktu, fungsi dari tari remo pun mulai beralih dari pembuka pertunjukan ludruk, menjadi tarian penyambutan tamu, khususnya tamu – tamu kenegaraan. Selain itu tari remo juga sering ditampilkan dalam festival kesenian daerah sebagai upaya untuk melestarikan budaya Jawa Timur. Oleh karena itulah kini tari remo tidak hanya dibawakan oleh penari pria, namun juga oleh penari wanita. Sehingga kini muncul jenis tari remo putri. Dalam pertunjukan tari remo putri, umumnya para penari akan memakai kostum tari yang berbeda dengan kostum tari remo asli yang dibawakan oleh penari pria.

*Dokumentasi pelajar Jombang yang tergabung dalam organisasi Forum Anak Jombang ketika membawakan tari Remo Boletan Khas Jombang dalam evet "Pawai Budaya Jombang 2017"



Sejarah tari remo memang tidak dapat terlepas dari pencipta tari Remo Bolet, yakni Pak Bolet. Beliau meninggal di usia 34 tahun, pada 15 Agustus 1976, dan dimakamkan di Tawangsari. Ia merupakan salah satu seniman yang turut mengharumkan nama Jombang bahkan Jawa Timur dengan kreasi remonya tersebut. Sebelum tahun 1965, seniman ini menjadi anggota Ludruk Gaya Baru. Setelah tahun 1968, ia menjadi pelawak dan peremo yang menghadirkan wacana kebebasan dan mewadahi berbagai bentuk kesenian yang ada di Jombang menjadi satu pertunjukan utuh. Prestasi yang dicapai antara lain pada tahun 1971, ia memeroleh juara I Lomba Tari Remo se Jawa Timur, setelah setahun sebelumnya menjadi Juara III tingkat Kabupaten Jombang.
Karya remo Pak Bolet memang patut dihargai. Karena itu, pada tahun 2007, ia mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Timur, tandas Drs. H.M. Arifin, MM., mantan Kepala Kantor Parbupora Jombang dan pengamat seni. Jejak Pak Bolet terus dinapak-tilasi para seniman tari maupun ludruk lainnya. Hal tersebut dapat dibuktikan ketika diselenggarakan Lomba Tari Remo se-Jawa Timur pada tahun 2004, terdapat 8 peremo ludruk Jombang yang masuk dalam 10 besar, dan 3 diantaranya meraih Juara I, II, dan III. Mungkin saja Jombang tidak kekurangan peremo yang handal, baik dari kalangan ludruk maupun dari sanggar seni tari. Namun kalau mencari yang sekualitas Pak Bolet masih sangat susah.

Supaya rekan-rekan dapat lebih mendalami mengenai tari remo boletan ini, yuk simak video Tari Remo Boletan asli jombang di bawah ini:

*Video Dokumenter siswi SMA Negeri 2 Jombang membawakan tari Remo Boletan asli Jombang


Dari video diatas dapat diketahui bahwa "Karakteristika" yang paling utama dari Tari Remo adalah gerakan kaki yang rancak dan dinamis. Gerakan ini didukung dengan adanya lonceng-lonceng yang dipasang di pergelangan kaki. Lonceng ini berbunyi saat penari melangkah atau menghentak di panggung. Selain itu, karakteristika yang lain yakni gerakan selendang atau sampur, gerakan anggukan dan gelengan kepala, ekspresi wajah, dan kuda-kuda penari membuat tarian ini semakin atraktif. 

Busana dari penari Remo ada berbagai macam gaya, di antaranya: Gaya Sawunggaling, Surabayan, Malangan, dan Jombangan. Selain itu terdapat pula busana yang khas dipakai bagi Tari Remo gaya perempuan. Sedangkan, musik yang mengiringi Tari Remo ini adalah gamelan, yang biasanya terdiri atas bonang barung/babok, bonang penerus, saron, gambang, gender, slentem siter, seruling, kethuk, kenong, kempul, dan gong. Adapun jenis irama yang sering dibawakan untuk mengiringi Tari Remo adalah Jula-Juli dan Tropongan, namun dapat pula berupa gending Walangkekek, Gedok Rancak, Krucilan atau gending-gending kreasi baru. Dalam pertunjukan ludruk, penari biasanya menyelakan sebuah lagu di tengah-tengah tariannya.  

Okeee... Bagaimana teman-teman? Apakah sudah bertambah wawasan kalian mengenai Tari Remo Boletan Asli Jombang ini ? Tertarik untuk mempelajari lebih dalam mengenai Tari Remo Boletan?
Harus dong! Kita sebagai generasi emas penerus bangsa harus bangga dan menjunjung tinggi kebudayaan kita, jangan sampai direbut oleh pihak lainnya, karena Kita Satu, Kita Indonesia, Kita Berbudaya!
Seperti biasa mari kita berdiskusi bersama, suarakan aspiramu melalui kolom komentar di bawah ya...
Terima Kasih.


Refrensi:



Rabu, 18 Mei 2016

Teks Rekaman Percobaan - Pemanfaatan Daun Jambu Biji sebagai Obat Diare

Menyusun Teks Rekaman Percobaan 

A.    Kerangka :
v  Judul : Pemanfaatan Daun Jambu Biji sebagai Obat Diare
v  Pendahuluan :
Ø  Latar belakang : Kebanyakan tumbuhan jambu hanya dimanfaatkan buahnya saja.
Ø  Rumusan masalah : Bagaimana pemanfaatan daun jambu biji?
Ø  Tujuan : Mengetahui daun jambu biji dapat dimanfaatkan sebagai obat.
v  Landasan teori :
1.      Pengertian tumbuhan jambu biji.
2.      Pengertian diare.
v  Metode penelitian : Alat dan bahan serta langkah pembuatan.
v  Hasil dan pembahasan : Penggunaan daun jambu biji sebagai obat diare.
v  Simpulan : Terbukti daun jambu biji dapat dimanfaatkan sebagai obat diare.


  

B.     Pengembangan :
Pemanfaatan Daun Jambu Biji sebagai Obat Diare
                         Tumbuhan jambu biji tidak asing lagi di kalangan masyarakat Indonesia. Tumbuhan tersebut terkenal akan buahnya yang kaya kandungan vitamin C. Namun, kebanyakan masyarakat hanya memanfaatkan bagian buahnya saja. Akan tetapi, semua bagian tumbuhan jambu biji sebenarnya dapat dimanfaatkan, seperti halnya daun tumbuhan jambu biji.

                         Berdasarkan penjabaran tersebut, timbul rumusan masalah bagaimana pemanfaatan daun tumbuhan jambu biji?

                         Laporan ini bertujuan mengetahui daun tumbuhan jambu biji dapat dimanfaatkan sebagai obat diare.

Jambu batu (Psidium guajava) atau sering  juga disebut jambu biji, jambu siki dan jambu klutuk adalah tanaman tropis yang berasal dari Brasil, disebarkan ke Indonesia melalui Thailand. Jambu batu memiliki buah yang berwarna hijau dengan daging buah berwarna putih atau merah serta berasa manis keasam-asaman. Buah jambu batu dikenal mengandung banyak vitamin C.

Diare adalah sebuah penyakit saat tinja atau feses berubah menjadi lembek atau cair yang biasanya terjadi paling sedikit tiga kali dalam 24 jam. Di negara berkembang, diare adalah penyebab kematian paling umum kematian balita, dan juga membunuh lebih dari 2,6 juta orang setiap tahunnya.

Untuk membuat obat diare dari daun tumbuhan jambu biji, siapkan alat dan bahan berikut! :
1.      Daun jambu biji 10 lembar.
2.      Herbal pegagan 16 gr.
3.      Herbal tapak dara 15 gr.
4.       Daun dewa 15 gr.
5.      Air bersih 600 ml.

Setelah alat dan bahan siap, ikuti langkah-langkah berikut! :
1.      Pertama, cucilah bahan hingga benar-benar bersih!
2.      Kedua, rebus semua bahan hingga air tersisa 300 ml!
3.      Ketiga, angkat dan dinginkan di tempat terbuka!
4.      Keempat, saring hingga air terpisah dengan bahan!
5.      Kelima, hidangkan air sisa rebusan!

                        Setelah langkah-langkah terselesaikan, air rebusan daun jambu biji dapat diminum dua kali sehari. Setelah meminum air tersebut, penderita diare akan merasa lega di perut, tinja lebih sedikit dan tidak encer, dan pemulihan akan lebih terasa cepat. Ekstrak daun jambu biji mampu menghambat pertumbuhan bakteri  Staphylococcus aureus sebagai penyebab utama diare. 


                        Dapat disimpulkan bahwa daun tumbuhan jambu biji dapat dimanfaatkan sebagai obat diare. Khasiat ekstrak daun jambu sebagai bahan efektif untuk membunuh kuman dan bakteri penyebab infeksi diare.    

Teks Tantangan - Kebijakan Pakaian Bekas Impor

Menyusun Teks Tantangan

A.    Kerangka :
v  Judul : “Kebijakan Pakaian Bekas Impor”
v  Isu :
Ø  Larangan impor pakaian bekas.
v  Argumen :
Ø  Pedagang tolak larangan kebijakan pakaian bekas impor.
Ø  Pedagang gulung tikar.
Ø  Pendapat pembeli.
v  Simpulan :
Ø  Pemerintah memikirkan lebih matang mengenai larangan kebijakan pakaian bekas impor.





B.     Pengembangan :

Kebijakan Pakaian Bekas Impor

            Pemerintah akan menerapkan larangan impor pakaian bekas ke Indonesia. Seperti diketahui, Menteri perdagangan sudah menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) tentang perdagangan yang menyatakan setiap importir wajib mengimpor barang dalam keadaan baru. Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan masalah kesehatan dan persoalan ke depan yang akan ditimbulkan pakaian impor ini.

            Sejak wacana ini merebak, dunia perdagangan menyatakan keberatan dengan kebijakan ini. Para pedagang pasar yang sudah berjualan turun temurun selama puluhan tahun tersebut mengaku akan gulung tikar apabila pemerintah memberlakukan larangan impor pakaian bekas dari Korea, Jepang, Cina dan Amerika Serikat.

Salah seorang pedagang, Robinson Sinulingga mengaku kepada wartawan, menolak kebijakan tersebut karena akan mematikan penghasilan ratusan orang bahkan ribuan pedagang pakaian eks impor tersebut. “Jelas kami menolaknya, ini perkara perut. Kalau dilarang, kami mau makan apa dan apa buat biaya anak sekolah kami”, cetusnya. Robinson mengungkapkan bahwa ratusan pedagang pakaian bekas impor sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari berjualan pakaian bekas. Kalau dilarang, maka jumlah pengangguran akan semakin banyak. “Pokoknya kami menolak. Sudah puluhan tahun kami menggantungkan hidup disini”, cetus Robinson yang mengaku generasi ketiga menggantikan dari orang tuanya.

Selama berdagang, ujar Robinson, belum ada laporan atau komplain pembeli yang mengalami penyakit atau virus dari memakai pakaian bekas asal luar negeri. Malah, pembeli mengaku terbantu dengan adanya pedagang pakaian bekas impor tersebut. “Selain harganya murah dan kualitasnya terjamin”, katanya. Terkait hal tersebut, konsumen juga ikut ambil suara.

Keberadaan pakaian besar saat ini, pada dasarnya dapat dijadikan sebagai alternatif bagi masyarakat kelas menengah ke bawah untuk memenuhi kebutuhan sandang. Hal ini dikarenakan, pakaian baru biasanya bisa dibeli masyarakat kalangan menengah ke atas.

Salah seorang pembeli, Bu Ema mengaku sangat keberatan kalau pakaian bekas impor  tersebut tidak boleh diperjual belikan. “Justru dengan adanya pakaian bekas ini, kami warga biasa bisa membeli pakaian berkelas dari luar negeri”, paparnya. Bukan itu saja, selain harganya murah serta terjangkau dengan isi kantong masyarakat, juga belum pernah ada kabar konsumen pakaian bekas yang terkena virus penyakit menular gara-gara memakai pakaian bekas. “Coba bayangkan, dengan uang Rp 100.000 kita bisa mendapatkan minimal 3 sampai 5 potong pakaian yang berkelas”, terangnya.

Sedangkan untuk mengantisipasi ketakutan tertular penyakit kulit, Bu Ema mengaku masalah itu mudah untuk mengantisipasinya, hanya dengan merendam air panas menggunakan detergen dan menjemurnya ke sinar matahari serta melakukan setrika, baru dipakai. “Untuk fashion, pakaian bekas tidak kalah gaya dengan pakaian di plaza-plaza”, ujarnya.


Dari penjelasan di atas, seharusnya pemerintah memikirkan lebih matang mengenai larangan kebijakan pakaian bekas impor di Indonesia. Pemerintah juga harus melihat dampak yang akan terjadi pada masyarakat ke depannya apabila hal ini diterapkan pada masyarakat. 

Teks Eksemplum - Jago Merah Meratapi Nasibku

Menyususn Teks Eksemplum 

Ø  Kerangka :
I.                   Pengalaman menyedihkan
·         Terjadi bulan lalu
·         Tejadi saat tengah hari
·         Tokoh tertidur lelap
II.                Tokoh senang bermain api
·         Tokoh mendapati korek api di halaman rumah
·         Tokoh memainkan api
·         Tokoh menyenggol api
III.             Rumah tokoh terbakar
·         Tokoh merasa lelah dan ingin tidur siang
·         Tokoh merasa api akan baik-baik saja
·         Api dengan cepat membara
·         Tokoh mencium bau terbakar
·         Tokoh pingsan
IV.             Petugas DAMKAR datang
·         Warga setempat menghubungi petugas pemadam kebakaran
·         Petugas pemadam kebakaran datang dan segera memadamkan api
·         Petugas membawa tokoh keluar rumah
·         Tokoh tebangun dan terkejut
V.                Menyadari menggunakan barang harus dengan bijak
·         Mengetahui bahaya api
·         Menyimpan korek api
·         Mengetahui agar tidak terjadi peristiwa yang sama
VI.             Gunakanlah barang dengan bijak, ketahuilah bahaya yang dapat ditimbulkan dari barang tersebut.






Ø  Pengembangan :
Jago Merah Meratapi Nasibku

Aku mempunyai pengalaman menyedihkan yang tidak akan pernah terlupakan. Peristiwa ini terjadi bulan lalu saat tengah hari. Aku sedang tidur terlelap, tiba-tiba api yang membara membakar rumahku.

            Ketika itu aku sedang berjalan-jalan di halaman rumah. Aku terkejut melihat korek api yang sudah usang di depan kakiku. Tanpa berpikir panjang aku mengambil benda itu dan membawanya masuk ke kamarku. Kunyalakan lilin yang berada di depan cermin dengan menggunakan korek itu. Aku senang sekali membuat bayang-bayang api. Waktu telah lama berlalu dan aku sudah mulai merasa bosan. Saat aku mengubah posisi badanku tanpa disengaja aku menyenggol lilin yang kumainkan. Aku melihat lilin itu hanya berpindah tempat dan aku mengabaikannya.

            Saat itu entah mengapa aku pun mengantuk dan ingin tidur siang. Aku menoleh ke arah lilin itu dan kulihat lilin itu baik-baik saja. Disaat aku tertidur pulas, api dari lilin itu membakar gorden kamarku dan menjalar hingga ke seluruh bagian rumah. Di tengah nyenyaknya tidurku aku terbangun karena mencium bau terbakar. Betapa terkejutnya aku meliahat api yang sedang mengelilingiku. Aku tidak bisa berpikir apa-apa, yang kulakukan hanyalah berteriak minta tolong. Tidak lama kemudian, aku terjatuh pingsan karena tidak tahan mencium bau asap yang memenuhi seluruh rumahku.

            Untunglah salah seorang warga sempat menghubungi petugas pemadam kebakaran. Selang beberapa menit kemudian, petugas pemadam kebakaran datang dan segera memeadamkan api. Warga yang baik hati itu mengatakan kepada salah seorang petugas bahwa diriku masih terjebak di dalam rumah. Dengan sigap petugas pemadam kebakaran masuk ke dalam rumahku menerjang api hanya untuk menyelamatkanku. Petugas itu akhirnya menggendongku ke luar rumah. Seketika itu juga aku tersadar dan betapa terkejutnya aku, Tuhan masih memberikanku umur yang panjang meski semua harta bendaku pasti akan habis dilahap api.

            Dari peristiwa tersebut aku sadar bahwa, barang harus diperlakukan dengan bijak bukan malah disia-siakan. Seandainya saja waktu itu aku tidak menggunakan korek api itu untuk mainan tapi menyimpannya, pasti peristiwa ini tidak akan terjadi. Tetapi waktu tidak bisa diputar kembali. Sekarang aku hanya bisa meratapi nasibku sebagai gelandangan memohon belas kasihan dari orang-orang.


            Sekarang, aku pun mengerti barang harus diperlakukan dengan sebaik-baiknya. Kita harus mengerti akibat apa yang dapat ditimbulkan dari barang itu sebelum menggunakannya.